Peran Orang Tua dalam Mengembangkan Kreativitas Anak

D.    Peran Orang Tua dalam Mengembangkan Kreativitas Anak
Memiliki anak yang kreatif adalah dambaan setiap orang tua. Masalahnya, kreativitas bukan anugerah yang diberiakan Tuhan dalam bentuk jadi, melainkan butuh proses untuk mendapatkannya. Proses ini tentu butuh campur tangan orang tua sebagai konseptor, yang berperan penting dalam menentukan hitam-putihnya masa depan anak. Sebagai konseptor yang ingin membangun suatu kepibadian, orang tua perlu menyadari bahwa, pribadi yang kreatif adalah pribadi yang mendekati kesempurnaan. Dengan kata lain, pribadi yang kompleks, yang memahami keberadaan diri sendiri serta lingkungannya.
            Karena itu, menciptakan anak yang kreatif tidak mudah membalik telapak tangan.Butuh upaya keras, berkesinambungan, serta kesabaran ekstra untuk melalui tahap demi tahap, sesuai perkembangan kemampuan berpikir anak. Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membangun kreativitas anak, diantaranya adalah:
1.      Membangun Kepribadian Islam
       Dengan cinta, orang tua dapat membangun kepribadian Islam pada anak yang tercermin dari pola pikir dan pola sikap anak yang Islami.Orang tua yang paham akan senantiasa mensimulasi atau merangsang aktivitas berpikir dan bersikap anak sesuai dengan standar Islami. Menstimulasi aktivitas berpikir dilakukan dengan cara menstimulasi unsur-unsur atau komponen berpikir (indra, fakta, informasi, dan otak). Aktivitas berpikir adalah aktivitas dalam rangka pemenuhan kebutuhan jasmani dan naluri (beragama, mempertahankan diri dan melestarikan jenis). Orang tua dapat menstimulasi alat indera anak dengan cara melatih semua alat indera sedini mungkin. Ajak anak mengamati, mendengarkan berbagai suara, meraba berbagai tekstur benda, mencium berbagai bau dan mengecap berbagai rasa. Menstimulasi otak dilakukan dengan cara memberi nutrisi yang halal dan bergizi yang diperlukan untuk membentuk sel-sel otak sejak dalam kandungan serta banyak menghadirkan fakta dan informasi yang dapat dicerap oleh anak. Mensimulasi informasi diarahkan untuk meyakini adanya pencipta melalui fakta-fakta pencinta alam. Orang tua juga bisa membacakan cerita, menagjari anak untuk selalu mengaitkan fakta baru dengan informasi yang sudah diberikan, setra menghindarkan anak dari fakta dan informasi yang merusak dengan cara menseleksi tayangan TV, buku dan majalah. Perlu dipahami oleh orang tua, bahwa anak memahami standar serta bertahap siring dengan kesenangan kesempurnaan akalnya. Anak usia dini belum sempurna akalnya. Namun, orang tua tetap perlu menenalkan standar-standar kepada anak secara berulang-ulang tanpa anak untuk  melakukannya. Biasanya pula mengenalkan dalil kepada anak.Orang tua juga hendaknya senantiasa menghadirkan keteladanan yang baik pada anak di mana saja mereka berada.Orang tua yang paham tidak akan menuntut anaknya untuk sama dengan anak lainya. Kita dapat membentuk kepribadian anak kita, tetapi bukan untuk menyamakan karakter mereka. Kita melihat, sahabat Umar ra, Abu Bakar ra, dan sebagainya tidak memiliki karakter yang sama meskipun masing-masing mereka merupakan pribadi-pribadi yang Islami. Keunikan mereka justu menjadikan mereka bintang-bintang yang gemerlapan di langit, terangnya bintang yang satu tidak memudarkan terangnya bintang yang lain. Begitu pula halnya dalam hal kreativitas mereka.Setiap sahabat adalah insan kreatif.Masing-masing mereka memiliki dimensi kreativitas sendiri-sendiri.Salman al-Farisi adalah penggagas perang parit.Umar al-Khattab adalah penggagas ketertibatan lalu-lintas.Abu Bakar as-Shiddiq adalah penggagas tekadnya sistim ekonomi Islam. Khalid bin Wahid adalah penggagas startegi perang modern, dan banyak lagi.
            Yang menjadi masalah sekarang, para orang tua sering kurang dalam bersungguh-sungguh untuk mengembangkan kreativitas anak. Seolah-olah orang tua lebih suka jika anak menjadi fotokopi orang lain ketimbang dia tumbuh sebagai pribadi yang utuh. Karena kepribadian menentukan kreativitas, seorang muslim pada hakikatnya memiliki potensi kreatif lebih besar dibandingkan dengan umat-umat lainnya.


2.      Memiliki Sarana Bermain yang Sesuai
            Pada dasarnya, anak memiliki energi yang berlebih.Bermain merupakan penyaluran terbaik untuk membuang suplus energi mereka itu. Dengan bermain, selain memperoleh kegembiraan, kenikmatan, dan kepuasan, anak juga akan mendapatkan manfaatnya, seperti pertumbuhnya segi fisik-motorik, mental-intelektual/kognitif, sosial, moral, emosinal, dan tentunya kreativitas. Dengan bermain, anak sekaligus belajar tentang konsep bentuk, ukuran, warna, jumlah, dan kegunaan objek.
            Begitu pentingnya arti bermain bagi anak, sehingga dalam buku-buku psikologi perkembangan, bermain dipandang sebagai unsur penting dalam perkembangan seluruh unsur kepribadian anak. Karena itu, orang tua sedapat mungkin menyediakan sarana dan alat bermain (toys) yang dapat merangsang kreativitas anak. Tentu saja, sarana dan alat bermain ini harus sesuai dengan kemampuan berpikir dan daya interaksi anak.
3.      Kenalkan dengan Lingkungan Sosial
            Pengenalan terhadap lingkungan sosial akan memberikan bekal empiris kepada anak yang kelak bermasyarakat dalam alam pergaulan dewasa. Anak dilatih mengerti fungi berbagi diri, pada saat yang sama seorang anak selain menjadi dirinya sendiri, juga merupakan bagian yang organis dari sebuah kelompok komunitas. Dalam hal ini, anak berkembang menjadi dirinya sendiri, sekaligus berkenalan dengan aturan main, dengan norma, sehingga dia dapat bergaul dengan wajar.

4.      Ajak Berhubungan dengan Alam
            Mangajak anak berhubungan dengan alam tidak sebatas mengenalkan mereka dengan nama-nama benda yang ada disekitarnya, melainkan juga merangsang imajinasi anak untuk dapat memanfaatkan benda-benda tersebut, walaupun pemanfaatannya untuk hal-hal yang sederhana.Misalnya, memanfaatkan benda yang ada disekitarnya untuk dibuat mainan. Pemanfaatan bahan mentah sehinga menjadi bentuk jadi ini akan membuka kesadaran anak akan perlunya berkreasi dengan alam. Selain itu, beri kesempatan pada anak untuk berinteraksi dengan alam.Sekali waktu, biarkan anak berjalan telanjang kaki diatas tanah, dan jangan terlalu memaksa mereka untuk selalu mengenakan sandal atau sepatu.Agar mereka dapat merasakan sakitnya menginjak kerikil, atau merasakan lembutnya rerumputan yang menggesek kulit kaki. Ini akan membuat anak dapat merasakan berbagai hal, serta menjadikan mereka tidak manja dan mudah mengeluh.
5.      Jangan Asal Melarang
            Sering kali, cara pandang terhadap suatu masalah antara orang dewasa dengan anak-anak berbeda. Suatu yang menurut anak-anak baik untuk dikerjakan, bisa jadi sebaliknya dimata orang dewasa. Untuk itu, selama pikiran anak-anak, paham maksud dari apa yang dia kerjakan, dan jangan asal melarang. Bila kita terpaksa melarang apa yang sedang dikerjakan anak-anak, seperti mencoret-coret dinding atau merusakan barang-barang, usahakan tidak melarang secara tegas. Beri dia pengertian dengan kalimat yang mendidik dan dapat dipahami oleh anak. Usahakan untuk memberi pengertian kepada anak bahwa anda sebenarnya cukup menghargai proses kreatif yang dia kerjakan. Selama ini yang sering terjadi, anak dilarang mengerjakan segala sesuatu tanpa penjelasan yang memadai, padahal penjelasan sangat perlu untuk tidak memastikan kreativitas anak.
6.      Memfasilitasi Anak untuk Menilai Dunia Sebagai Hal yang Penting
            Orang yang kreatif adalah orang yang menilai dunia sebagai hal yang berharga.Kreativitasnya digugah oleh daya tarik lingkungannya, punya kepedulian terhadap orang lain, dan menilai hidup sebagai suatu yang penting.Pendeknya, orang kreatif menilai hidunya sangat berharga.Oleh karena itu, untuk membangkitkan kreativitas anak pertama-tama orang tua perlu menunjukan kepadanya betapa hidup ini berharga dan penting.Anak perlu memiliki kepercayaan bahwa dunia adalah tempat yang baik dan hidupnya berharga.Pertumbuhan kepercayaan ini dimulai dari pembinaan hubungan pertama kali dari orang tua. Anak membangun pemahaman dengan tentang orang lain melalui intraksi dengan orang tuanya. Pemahaman tentang hal-hal yang penting pun diperoleh dari orang tua.Orang tua merupakan model pertama bagi anak.Lewat interaksi dengan orang tuanya, seorang anak memasuki lingkungannya yang lebih luas.Jika orang tua dapat membina hubungan yang hangat dan nyaman, maka anak punya bekal untuk menampilkan sikap terhadap lingkungannya dan merasa nyaman untuk menampilkan dirinya disana. Dengan bekal itu, anak akan merasa leluasa untuk mengenal dunia dan beraktivitas didalamnya. Lalu, dengan dukungan dari orang tua, anak belajar mengeksplorasi lingkungan dan memberi makna kepada obyek-obyek yang ditemuinya.Kepedulian anak terhadap lingkungannya terbina dari aktivitas eksplorasi itu. Dari waktu ke waktu, lingkungannya dan menghargai apa yang ada disana.
7.      Memfasilitasi Anak untuk Tetap Memiliki Penilaian dan Pemahaman yang Unik
            Kepedulian dan penghargaan terhadap lingkungan serta dunia pada umumnya menjadi motif anak untuk ikut berpatisipasi dalam kehidupan bersama orang lain. Anak jadi memiliki kehendak untuk ikut memberikan sumbangan dan pengaruh kepada lingkungannya.Cara pandang terhadap dunia yang unik pada anak merupakan dasar dari kontribusi kreatifnya.Untuk menjaga keunikan guna memperoleh sumbangan kreatif anak, orang tua perlu meleluasakan anak untuk memiliki penilaian yang berbeda dari orang tua, mempertanyakan obyek-obyek yang ditemui anak, dan menampilkan tindakan-tindakan yang tidak biasa.Protes, bantahan, inisiatif, kemauan, dan tindakan yang tak umum anak yang perlu difasilitasi. Orang tua perlu menanggapi secara bijak apa yang ditampilkan anak. Mereka harus menghindari tanggapan yang sekedar melarang atau membolehkan. Caranya, bisa mengajak anak berdialog, bertanya mengapa anak melakukan apa yang dia lakukan, memberikan contoh-contoh yang menggunggah rasa ingin tahu anak, mengarahkan dengan cara yang dimengerti oleh anak. Pendeknya orang tua perlu agar menjaga kepedulian dan rasa ingin tahu anak tidak hilang.Orang tua perlu terus memupuk kedua hal itu pada diri anak.
            Kepedulian dan rasa ingin tahu merupakan modal untuk kreatif.Modal berikutnya adalah meleluaskan anak untuk menguji coba dugaan dan keyakinannya tentang lingkungannya.Fasilitas perlu diberikan disini.Orang perlu menujukan empati dalam arti memahami anak dari sudut pandang anak, mencoba masuk dalam pikiran anak untuk dapat membantunya mengembangkan penilaian dan pemahaman yang lebih memadai. Disisi lain, orang tua menjaga agar anak tetap mempertahankan penilaian dan pemahaman yang unik pada anak sambil memfasilitasinya untuk tidak mengabaikan realitas yang terpapar di lingkungan.
8.      Menggugah Anak dengan Rangsangan yang Beragam
            Untuk memperkaya penilaian dan pemahaman anak terhadap lingkungannya, orang tua perlu menggugah anak dengan rangsangan-rangsangan yang beragam. Orang tua perlu memperkenalkan anak dengan berbagai ranah kehidupan, seperti kehidupan  sosial dan ekonomi, seni, olahraga, ilmu pengetahuan, dan kehidupan religius. Rangsangan beragam ini memberikan perspektif yang beragam pada anak dan memperkaya wawasan anak.Keterkaitan anak kepada beragam ranah kehidupan meningkatkan ketertarikannya terhadap kehidupan dan dunia yang lebih luas. Orang yang kreatif punya imajinasi yang sangat kaya karena ia juga punya pengalaman berhubungan dengan beragam hal dalam beragam ranah kehidupan.
            Anak perlu dilibatkan secara aktif dalam ranah-ranah kehidupan. Selain imajinasinya diperkaya, ia juga perlu menjalani secara kongkret aktivitas-aktivitas dalam ranah kehidupan itu.
9.      Melakukan Aktivitas-aktivitas Kreatif
            Ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk melibatkan anak dalam beragam ranah kehidupan sejak dini. Berikut ini contoh-contohnya:
1.      Membayangkan apa yang akan dilakukan ketika dewasa
                        Anak disini diajak untuk bermain dengan cara menggambarkan apa yang akan dilakukannya pada saat ia sudah dewasa. Apa pekerjaan mereka? Apa saja aktivitas yang dilakukan? Kalau mereka punya rumah, seperti apa rumah mereka? Ini adalah contoh pertanyaan yang dapat diajukan dalam permainan ini.
2.      Membuat cerita sebelum tidur yang bersambung dan menggugah rasa penasaran anak
                        Disini orang tua membuat cerita yang menarik untuk anak.Cerita itu dibuat bersambung dari malam ke malam.Setiap malam, cerita dihentikan pada adegan yang menggugah rasa ingin tahu dan diteruskan pada malam berikutnya.
3.      Mengajak anak untuk bermain peran yang ia ciptakan sendiri
                        Ajak anak untuk memilih peran tertentu yang ia tentukan sendiri. Minta ia tampilkan peran itu selengkap mungkin. Orang tua juga ikut terlibat sebagai peserta permainan dan ikut memilih peran yang juga mereka mainkan.Buat seolah-olah ada panggung tempat mementaskan peran itu. Bisa juga peran-peran itu dimainkan bersama oleh orang tua dan anak sehingga ada dialog di situ.
4.      Biarkan anak menjadi penunjuk jalan
                        Ketika sedang berjalan-jalan, sering sekali anak berjalan terlalu cepat, berlari, dan tak sabar.Ini dapat dimanfaatkan untuk memberi kesempatan dan memfasilitasi anak menjadi pelopor.Minta anak menjadi penunjuk jalan. Gugah ia untuk membayangkan bahwa ia adalah pemimpin atau pemandu perjalanan yang bertugas membawa rombongannya sampai ke tujuannya.
5.      Menari bersama
                        Menari mengikuti musik tertentu adalah kegiatan yang menggugah ungkapan kreatif anak.Ajak anak untuk menari, menampilkan gerakan yang sesuai dengan irama musik.Orang tua ikut menari dengan anak.
6.      Berkebun bersama
                        Ajak anak berkebun bersama orang tua. Gugah mereka untuk menentukan tanaman apa yang hendak ditanam atau dirawat. Ceritakan kepada anak karakteristik tanaman-tanaman yang ada dan ajak ia untuk memikirkan nasib dari tanaman-tanaman itu. Biarkan anak bermain dengan tanah, menggali, dan menanami tanah dengan tanaman. Minta ia memberi nama khusus untuk tanaman dan tanya alasannya mengapa ia menamai tanaman dengan nama itu.
7.      Membuat layang-layang bersama
Dari pada membelikan anak layangan, lebih baik ajak anak untuk membuat layangan. Beri contoh bagamana cara membuatnya dan libatkan ia dalam pembuatan. Beri keleluasan untuk memilih warna dan motif  layangan.
8.      Memasak bersama
            Ajak anak terlibat dalam kegiatan dapur. Rencanakan bersama apa yang akan dimasak dan diskusikan dengan anak bagaimana kira-kira memasaknya. Biarkan anak mencoba-coba dan tanggapi dengan pertanyaan-pertanyaan, serta ajukan kemungkinan-kemungkinan rasa makanan yang akan diperoleh jika bahan atau bumbu tertentu diikuti sertakan dalam masakan.
9.      Membuat kelompok band musik
            Ajak anak membuat kelompok band untuk memainkan musik dengan peralatan yang ada di rumah.Biarkan anak mengeksplor kemungkinan bunyi yang dapat dihasilkan alat-alat itu.Lalu, beri peran pada anak dalam band dan mainkan musik bersama sesuai selera dan ketertarikan anak.
            Adanya banyak lagi aktivitas yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kreativitas anak.Aktivitas-aktivitas itu tidak perlu memakan biaya besar dan dapat dilakukan kapan saja. Orang tua perlu mencari aktivitas-aktivitas apa saja yang menarik untuk anak. Usahakan aktivitasnya seberagam mungkin agar anak memiliki wawasan luas sehingga imajinasinya pun jadi sangat kaya.
10. Menumbuhkembangkan Motivasi
            Kreativitas dimulai dari suatu gagasan yang interaktif.Bagi anak-anak, dorongan dari luar diperlukan untuk memunculkan suatu gagasan.Dalam hal ini, para orangtua banyak berperan. Dengan penghargaan diri, komunikasi dialogis dan kemampuan mendengar aktif maka anak akan merasa dipercaya, dihargai, diperhatikan, dikasihi, didengarkan, dimengerti, didukung, dilibatkan dan diterima segala kelemahan dan keterbatasannya. Dengan demikian, anak akan memiliki dorongan yang kuat untuk secara berani dan lancar mengemukakan gagasan-gagasannya. Selain itu, untuk memotivasi anak agar lebih kreatif, sudah seharusnya kita memberikan perhatian serius pada aktivitas yang tengah dilakukan oleh anak kita, misalnya dengan melakukan aktivitas bersama-sama mereka. Kalau kita biasa melakukan puasa dan shalat bersama anak-anak kita, mengapa untuk aktivitas yang lain kita tidak dapat melakukannya? Bukankah lebih muda untuk mentransfer suatu kebiasaan yang sama ketimbang harus memulai suatu kebiasaan yang sama sekali baru? Dengan demikian, sesengguhnya seorang Muslim memiliki peluang yang lebih besar untuk menjadikan anak-anak mereka kreatif.Tinggallah sekarang bagaimana kita sebagai orang tua Muslim senantiasa berusaha untuk memperkenalkan anak-anak kita dengan berbagai hal dan sesuatu yang baru untuk memenuhi aspek kognitif mereka.Tujuannya adalah agar mereka lebih terdorong lagi untuk berpikir dan berbuat secara kreatif. Perlu dicatat, dalam memotivasi anak agar kreatif, lakukanlah dengan cara menyenangkan dan tidak di bawah tekanan/paksaan.
11. Mengendalikan Proses Pembentukan Anak Kreatif 
             Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam pembentukan anak kreatif adalah:
a.      Persiapan waktu, tempat, fasilitas dan bahan yang memadai. Waktu dapat berkisar antara 10-30 menit setiap hari; bergantung pada bentuk kreativitas apa yang hendak dikembangkan. Begitu pula dengan tempat, ada yang memerlukan tempat yang khusus dan ada pula yang dapat dilakukan di mana saja. Fasilitas tidak harus selalu canggih, bergantung pada sasaran apa yang hendak dicapai. Bahan pun tidak harus selalu baru, lebih sering justru menggunakan bahan-bahan sisa atau bekas.
b.      Mengatur kegiatan. Kegiatan diatur sedemikian rupa agar anak-anak dapat melakukan aktivitasnya secara individual maupun berkelompok. Kadang-kadang anak-anak melakukan aktivitas secara kompetitif, kadang-kadang juga secara kooperatif.
c.       Menyediakan satu sudut khusus untuk anak dalam melakukan aktivitas.
d.      Memelihara iklim kreatif agar tetap terpelihara. Caranya dengan mengoptimal-kan poin-poin tersebut di atas.
12. Mengovtimalkan Hasil Kreativitas
            Selama ini kita sering menilai kreativitas melalui hasil atau produk kreativitas. Padahal sesungguhnya proses itu pada masa kanak-kanak lebih penting ketimbang hasinya. Pentingnya penilaian kita terhadap proses kreativitas bukan berarati kita tidak boleh menilai hasil kreativitas itu sendiri. Penilaian tetap dilakukan.Hanya saja, ada satu hal yang harus kita perhatikan dalam menilai.Hendaknya kita menilai hasil kreativitas tersebut dengan menggunakan perspektif anak, bukan perspektif kita sebagai orang tua. Kalau kita mendapati anak berusia 3 tahun dan kemudian kita dapat menyebutkan huruf hijaiyah dari alif  sampai ya, apakah kita akan mengatakan, “Ah, kalau cuma bisanya baru menyebutkan begitu, saya juga bisa”. Tentu saja, dalam mengevaluasi proses dan hasil kreativitas harus “open mind” atau dengan “pikiran terbuka”. Setiap kali kita mengevaluasi hasil tersebut, kita harus selalu memberikan dukungan, pengutan sekaligus pengarahan.Begitu juga sebaliknya, jauhi celaan dan hukuman agar anak kita tetap kreatif.

Komentar

Postingan Populer