Orang Tua dan Anak

A.    Orang Tua dan Anak
            Orang tua adalah orang pertama yang memiliki tanggung jawab terhadap kebajikan dan kerusakan masyarakat. Tanggung jawab mereka sangat besar di sisi Allah dan terhadap masyarakatnya. Tentu saja, melalaikan tanggung jawab tersebut akan memperoleh hukuman setimpal. Sementara itu, tanggung jawab seorang Ibu terhadap pendidikan lebih sukar dan berat ketimbang seorang Ayah. Sebab, seorang anak mengambil unsur terbesar dalam pembentukan mentalnya dari si Ibu, terutama sisi kejiwaannya.
            Rasullah saw bersabda, “Surga terletak di bawah telapak kaki Ibu”. Sebab, bagian terpenting bagi kebahagiaan dan kesengsaraan seorang anak berada di tangan Ibunya.
            Orang tua adalah pribadi yang mencentak kepribadian anak. Merekalah yang mengatur prilaku yang dijalankan dalam kehidupan seorang anak. Model pendidikan yang diambil kedua orang tua bersama anaknyalah yang membentuk kepribadian yang baik bagi si anak, atau, sebaliknya, menjadikannya buas dan selalu mengikuti hawa nafsu. Sebagaimana, sifat itu diwariskan oleh kedua orang tua kepada anaknya dalam bentuk yang telah kami kemukakan sebelumnya.
            Karena itu, tidak seorang pun yang dapat meremehkan peran orang tua. Benar, bahwa bertumbuh dan berkembangnya fisik akan menciptakan (secara alami) kesiapan untuk menikah. Namun, sifat keibuan dan kebapakan membutuhkan kematangan berpikir, ketinggian akhlak, untuk kekuatan mental.
            Pola asuh orang tua merupakan salah satu faktor penting dalam mengembangkan ataupun menghambat tumbuhnya kreativitas. Seseorang anak yang dibiasakan dengan suasana keluarga yang terbuka, saling menghargai, saling menerima, dan mendengarkan pendapat anggota keluarganya, maka ia akan tumbuh menjadi generasi yang terbuka, fleksibel, penuh inisiatif, dan produktif, suka akan tantangan dan percaya diri. Perilaku dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Lain halnya jika seseorang anak dibesarkan dengan pola asuh yang mengutamakan kedisplinan yang tidak dibarengi dengan toleransi, wajib menaati peraturan, memaksakan kehendak, yang tidak memberikan peluang bagi anak untuk berinisiatif, maka yang muncul adalah generasi yang tidak memiliki visi masa depan, tidak punya keinginan untuk maju dan berkembang, sikap berubah dan beradaptasi dengan baik, terbiasa berpikir satu arah (linier), dan lain sebagainya.
            Kehidupan keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi anak. Oleh karena itu, pola pengasuhan orang tua menjadi sangat penting bagi anak dan akan mempengaruhi kehidupan anak hingga dewasa.  Keluarga memiliki peranan yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan,baik agama maupun moral sosial budaya yang diberikan merupakan faktor yang kondusif untuk memersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat.
            Keluarga juga dipandang sebagai institusi (lembaga) yang dapat memenuhi kebutuhan, terutama kebutuhan bagi pengembangan kepribadinya dan pengembangan ras manusia.Apabila mengaitkan peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu, maka keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut.Melalui perawatan dan perlakuan yang baik dari orang tua, anak dapat memenuhi kebutuhan kebutuhan dasarnya, baik fisik-biologis maupun sosiopsikologisnya.Apabila anak telah memperoleh rasa aman, menerima sosial dan harga dirinya, maka anak dapat memenuhi kebutuhan tertingginya, yaitu perwujudan diri (self-actualization).Keluarga berfungsi sebagai penanam nilai-nilai agama, budaya, dan keterampilan-keterampilan tertentu yang bermanfaat bagi anak.Berkaitan dengan tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak, agama telah memberikan kaidah-kaidah yang menjadi rujukan dalam rangka mengembangkan “waladun shalihun” (anak yang shaleh).
Diantara kidah-kaidah agama itu adalah kepada anak agar mereka memiliki pedoman hidup yang benar.
Hadits Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ اَبِيْ هُرَ يْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ مَوْ لُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى اْلفِطْرَةِ حَتَّى يَكُوْنَ أبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنِصِّرِانِهِ اَوْيُمَجِسَانِهِ (رواه البخري ومسلم)
            “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tauhidullah), maka pengaruh pendidikan orang tuanyalah dia menjadi yahudi, nasrani, atau majusi.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
            Hadits riwayat Imam Baihaqi:
حَقَّ اْلوَلَدِ عَلَى وَالِدِهِ اْنْ يُحْسِنَ اِسْمَهُ وَ اَدَّبَهُ وَ لِضَعُهُ مَوْسِعًا صَالِحًا
            “Hak anak atas orang tuanya, hendaknya orang tuanya memberi nama yang baik kepadanya, dan mendidiknya dengan baik, dan menempatkannya (tempat tinggal) ditempat yang baik/shalih.
            Hadits riwayat Imam Abu Daud:
مُرُّوااَوْلَادَكُمْ بِا لصَّلَا ةِ اِذَابَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ وَاِذَابَلَغَ عَشَرَ سِنِيْنَ فَا ضْرِبُوْاهُ
           
            “Suruhlah anak-anakmu mengerjakan sholat ketika mereka sudah berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka jika tidak mau mengerjakannya ketika mereka sudah berusia 10 tahun dan pisahlah tempat tidur mereka”.
           
            Dalam Al-Qur’an, surat At-Tahrim: 6, difirmankan:
$pkšr'¯»tƒtûïÏ%©!$#(#qãZtB#uä(#þqè%ö/ä3|¡àÿRr&ö/ä3Î=÷dr&ur#Y$tR$ydߊqè%urâ¨$¨Z9$#äou$yfÏtø:$#ur$pköŽn=tæîps3Í´¯»n=tBÔâŸxÏî׊#yÏ©žwtbqÝÁ÷ètƒ©!$#!$tBöNèdttBr&tbqè=yèøÿtƒur$tBtbrâsD÷sム(التّحريم:6)
            “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (At-Tahrim: 6)
            Ayat ini memberikan isyarat kepada orang tua bahwa mereka diwajibkan memelihara diri dan keluarganya dari murka Allah. Satu-satunya cara untuk menghindari siksa api neraka atau murka Allah adalah dengan beragama yang benar. Keluarga berkewajiban mengajar, membingbing atau membiasakan anggota untuk mempelajari dan mengamalkan ajaran agama.
            Oleh karena itu, pada saat bayi masih berada dalam kandungan, orang tua (terutama Ibu) seyogianya lebih meningkatkan amal ibadahnya kepada Allah, seperi melaksankan sholat wajib dan sunnah, berdoa, berdzikir, membaca Al-Qur’an dan memberi sedekah.
            Dalam mengembangkan fitrah beragama anak dalam lingkungan keluarga, maka ada beberapa hal lagi yang perlu menjadi kepedulian (perhatian) orang tua yaitu sebagai berikut:
a.      Karena orang tua merupakan Pembina pribadi yang pertama bagi anak, dan tokoh yang diidentifikasi atau ditiru anak, maka seyogianya dia memiliki kepribadian yang baik atau berahlakul karimah (akhlak yang mulia).
b.      Orang tua hendaknya memperlakukan anaknya dengan baik.
c.      Orang tua hendaknya memlihara hubungan yang harmonis antar anggota keluarga (Ayah dengan Ibu, orang tua dengan anak, dan anak dengan anak).
d.     Orang tua hendaknya membimbing, mengajarkan atau melatih ajaran agama terhadap anak, seperti: syahadat, sholat (bacaan dan gerakannya), berwudlu , doa-doa, bacaan Al-Qur’an lafaz zikir dan akhlak terpuji (akhlakul mahmudah) seperti bersyukur ketika mendapat anugerah, bersikap jujur, menjalin persaudaran dengan orang lain,dan menjauhkan diri dari perbuatan yang dilarang Allah.
            Pentingnya peranan orang tua dalam mengembangkan fitrah beragama, maka ada beberapa hal yang perlu menjadi kepedulian.
                        Menurut Zakiah derajat ayat-ayat ini berisi: pembinaan jiwa orang tua (kewajiban bersyukur kepada Allah ); pembinaan/pendidikan kepada anak yang menyangkut aspek-aspek: iman dan tauhid (tidak memuysrikkan Allah), akhlak/kepibadian (bersyukur kepada Allah dan kepada kedua orang tua, bersikap sabar dalam menghadapi musibah, tidak bersikap sombong/angkuh kepada orang lain), ibadah (menegakkan sholat, bertaubat, rajin beramal shaleh dan dak’wah (memerintah atau mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan dan melarang atau mencegah orang lain berbuat kejahatan/keburukan).
            Uraian di atas menunjukkan bahwa tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak tidak hanya sebatas anak mampu mempertahankan hidupnya, namun lebih dari itu adalah mampu memknai kehidupan atau memahami misi suci hidupnya sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi ini.




Komentar

Postingan Populer